JAKARTA, SuaraAmor.com | Di tengah gegap gempita prosesi wisuda Universitas Trisakti di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (5/5/2026), ada satu kisah yang menyita perhatian. Dari ribuan wisudawan yang memenuhi Plenary Hall, sosok Dr Abraham Kateyau, SE, MH tampil membawa cerita perjuangan panjang seorang anak pesisir Mimika yang berhasil menembus panggung akademik tertinggi.
Pria yang akrab disapa Bram Kateyau itu resmi menyandang gelar Doktor Hukum Universitas Trisakti setelah sukses mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji Program Doktor Ilmu Hukum.
Bagi Bram, capaian tersebut bukan sekadar gelar akademik, melainkan simbol perjuangan panjang yang lahir dari keterbatasan hidup di kampung pesisir Keakwa, Mimika Tengah, Papua Tengah.
“Pendidikan adalah jalan perubahan. Saya ingin generasi muda Papua percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi,” ujar Bram Kateyau usai prosesi wisuda.
Dalam sidang terbuka wisuda Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026 bertema The New Generation of Entrepreneur, Bram menjadi satu dari 18 lulusan doktor bidang hukum yang diwisuda Universitas Trisakti tahun ini.
Disertasi yang mengantarkannya meraih gelar doktor berjudul Rekonstruksi Tanggungjawab Hukum Bagi Pelaku Penyebaran Berita Bohong di Media Sosial yang Mengandung Diskriminasi Dalam Mewujudkan Keadilan Bagi Masyarakat.
Penelitian tersebut menyoroti pentingnya rekonstruksi hukum terhadap penyebaran hoaks dan ujaran diskriminatif di media sosial yang dinilai semakin mengancam kehidupan sosial masyarakat.
Bram mengaku perjalanan menuju gelar doktor tidaklah mudah. Di tengah tanggung jawab sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Mimika, ia harus membagi waktu antara pekerjaan, riset, dan penyelesaian disertasi.
“Saya satu angkatan dengan Bapak Dr Eltinus Omaleng dan Bapak Dr Methodius Kossay. Mereka wisuda lebih dulu, sementara saya harus menyelesaikan riset dan tugas-tugas pelayanan sebagai ASN,” katanya.
Lahir di Jayapura pada 13 April 1972, Bram tumbuh besar di Kampung Keakwa, wilayah pesisir Mimika yang saat itu masih sangat terbatas akses pendidikan maupun fasilitas penunjangnya.
Namun keterbatasan itu tidak memadamkan semangatnya untuk terus belajar.
Ia mengawali pendidikan di SD YPPK Santo Bonaventura Keakwa, melanjutkan ke SMP YPPK Lecocq d’Armanville Kaokanao, kemudian menempuh pendidikan SMA di Nabire.
Kondisi ekonomi keluarga yang sulit sempat membuat cita-citanya nyaris kandas. Tetapi Bram memilih bertahan dan terus melanjutkan pendidikan hingga akhirnya meraih gelar Sarjana Ekonomi dari STIE Ottow Geissler Papua pada 2001.
Bagi Bram, pendidikan bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan bekal untuk mengabdi kepada masyarakat Papua, khususnya Mimika.
“Capaian ini bukan hanya kebanggaan pribadi dan keluarga, tetapi pesan bahwa anak-anak Papua juga mampu bersaing dan meraih pendidikan tertinggi jika mau berjuang,” ujarnya.
Ia pun mengajak generasi muda Papua untuk tidak takut bermimpi besar meski lahir dari daerah terpencil dan penuh keterbatasan.
“Mimpi besar bisa lahir dari tempat sederhana. Kuncinya doa, kerja keras, disiplin, dan tidak mudah menyerah,” katanya.
Sementara itu, Rektor Universitas Trisakti Prof Dr Ir Kadarsah Suryadi, DEA mengatakan wisuda bukan akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian para lulusan kepada masyarakat dan bangsa.
“Kami berharap lulusan Universitas Trisakti mampu menjadi generasi yang inovatif, berintegritas, dan memiliki jiwa kepemimpinan,” ujar Kadarsah.
Prosesi wisuda juga dihadiri Menteri UMKM RI Maman Abdurrahman yang menilai Universitas Trisakti telah menjadi tempat lahirnya banyak tokoh dan pemimpin nasional.
Di balik kemegahan ruang wisuda JCC, kisah Abraham Kateyau menjadi pengingat bahwa pendidikan tetap menjadi jembatan harapan bagi anak-anak Papua untuk menembus batas dan mengubah masa depan.
