Banten — Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PB MA) periode 2021–2026, KH Embay Mulya Syarief, menyampaikan bahwa pelaksanaan Muktamar ke-21 Mathla’ul Anwar menjadi momentum penting dalam penguatan organisasi serta menjawab tantangan zaman. Hal tersebut disampaikannya kepada wartawan di Le Dian Hotel & Cottages, Kota Serang, dalam rangkaian kegiatan muktamar dan musyawarah nasional (munas).
Menurut Embay, Muktamar ke-21 ini menjadi yang pertama kali diselenggarakan di ibu kota Provinsi Banten. Sebelumnya, kegiatan serupa belum pernah digelar, bahkan sejak masa keresidenan. Ia mencontohkan, pada 2015 kegiatan Mathla’ul Anwar sempat digelar di Menes dan dihadiri Presiden Joko Widodo, sehingga daerah tersebut lebih dikenal publik, sementara Kota Serang masih relatif belum terlihat sebagai pusat kegiatan organisasi.
“Alhamdulillah, pembukaan kemarin berjalan lancar dan hari ini juga berlangsung dengan baik. Mudah-mudahan malam ini seluruh rangkaian selesai dan dapat menghasilkan Ketua Umum terpilih dari hasil muktamar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Embay menegaskan bahwa muktamar tidak sekadar menjadi ajang pergantian kepengurusan, melainkan juga forum strategis untuk menata organisasi agar mampu menghadapi perkembangan zaman, khususnya di bidang pendidikan dan teknologi.
Ia menjelaskan bahwa Mathla’ul Anwar memiliki tiga bidang utama, yakni pendidikan, dakwah, dan ukhuwah (persaudaraan). Dalam konteks pendidikan, organisasi diharapkan mampu meningkatkan mutu lembaga yang sudah ada, termasuk perguruan tinggi agar terus berkembang menjadi lebih baik.
“Pendidikan harus terus ditingkatkan. Yang sudah baik menadi lebih baik, dan yang belum optimal harus didorong agar meningkat kualitasnya,” katanya.
Di bidang dakwah, Embay menyoroti fenomena dakwah yang cenderung mengedepankan emosi. Oleh karena itu, pihaknya mendorong penyusunan kode etik dakwah agar lebih sejuk dan konstruktif.
Sementara itu, dalam aspek ukhuwah dan sosial kemasyarakatan, Mathla’ul Anwar menegaskan komitmennya untuk membangun kebersamaan tanpa mempersoalkan perbedaan, baik dengan organisasi masyarakat Islam maupun non-Islam.
“Saya tidak memandang ormas lain sebagai saingan, tetapi sebagai mitra dalam membangun dan merawat kebinekaan. Itu menjadi ciri khas Mathla’ul Anwar,” tegasnya.
Muktamar ini dihadiri peserta dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Kehadiran para peserta menunjukkan komitmen tinggi kader Mathla’ul Anwar dalam mendukung keberlangsungan organisasi, meskipun harus menempuh perjalanan jauh dengan biaya yang tidak sedikit.
“Ini menunjukkan semangat juang yang luar biasa dari seluruh kader yang hadir,” pungkas KH. Embay.




